Sugeng Rawuh

Welcome to My Blog... :)
Hope can give u more knowledge, hope u can enjoy it... :)

Thanks for your visit..

gracias...

Minggu, 25 Desember 2011

Kimia Analisis

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS
“ASIDI ALKALIMETRI”




Disusun Oleh :

YESSY KHOIRIYANI                     ( G1F010008 )
SANI ZAKKIA ALAWIYAH          ( G1F010009 )
JANESCA K. GINTING                   ( G1F010010 )
IFA MUTTIATUR ROSIDAH         ( G1F010011 )
GALIH SAMODRA                          ( G1F010012 )
KELOMPOK III
GOLONGAN I
ASISTEN :   AHMAD FIKI FIRDAUS ( G1F008061 )
WINDA ARIYANI ( G1F0080049 )





LABORATORIUM KIMIA-FARMASI
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2011
I.         JUDUL PERCOBAAN :
Asidi Alkalimetri

II.      TUJUAN :
Menetapkan kadar senyawa obat dalam sampel menggunakan prinsip reaksi asam – basa.

III.   ALAT DAN BAHAN:
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah beaker glass, pipet tetes, timbangan analitik, pembakar spiritus, penjepit tabung, labu erlenmeyer, buret, statif dan klem, batang pangaduk dan spatula.
Bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah natrium bikarbonat, natrium karbonat, asam klorida, NaOH, C2H2O4, indicator phenoftalein, dan indicator metal jingga.

IV.   DATA PENGAMATAN
Penetapan kadar NaHCO3
Titrasi Ke-
Berat NaHCO3 dalam 50 ml akuades
N HCl hasil pembakuan
ml HCl yang digunakan
Indikator
Perubahan warna
Kadar NaHCO3
1
100 mg
0,096 N
15,5 ml
Metil jingga (3 tetes)
Kuning-Jingga
124,992 %
2
100 mg
0,096 N
15,75 ml
Metil jingga (3 tetes)
Kuning-Jingga
127,008 %
3
100 mg
0,096 N
15,5 ml
Metil jingga (3 tetes)
Kuning-Jingga
124,992 %




V.      PERHITUNGAN
·         Pembakuan NaOH
V C2H2O4 . N C2H2O4  = V NaOH . N NaOH
                     N NaOH   =
N NaOH 1=

N NaOH 2=

N NaOH 3=


·         Pembakuan HCl
V NaOH . N NaOH  = V HCl . N HCl
      NHCl =

NHCl 1=

NHCl 2=

NHCl 1=


·         Penentuan Kadar NaHCO3

% Kadar =

Titrasi 1
% Kadar =  b/b
            
              = 124,992 %  b/b

Titrasi 2
% Kadar =  b/b
            
              = 127,008 %  b/b

Titrasi 3
% Kadar =   b/b
            
              = 124,992 %   b/b

x
d2
124,992%

0,672
0,4516
127,008%
125,664 %
1,344
1,806
124,992%

0,672
0,4516



           
SD =  = 1,16
Kadar = x ± SD
= 125,664 ± 1,16

·         Penentuan Kadar Asam Sitrat (Titrasi menggunakan NaOH)

% Kadar =

Titrasi 1
% Kadar =  
            
              = 92,3 %

Titrasi 2
% Kadar =  
            
              = 92,3 %

Titrasi 3
% Kadar =  
            
              = 90,31 %

x
d2
92,3 %

0,7
0,49
92,3 %
91,6 %
0,7
0,49
90,31 %

1,29
1,66


Ʃ = 2,69
Ʃ = 2.64

d = 2,69/3 = 0,9
SD =  = 1,15

Kadar = x ± SD
= 91,6 % ± 1,15



·         Penentuan Kadar Asam Salisilat
% Kadar =


Titrasi 1
% Kadar =  
      
              = 100,4 %

Titrasi 2
% Kadar =  
            
              = 100,4 %

Titrasi 3
% Kadar =  
            
              = 100,4 %

x
d2
100,4 %

0
0
100,4 %
100,4 %
0
0
100,4 %

0
0


Ʃ = 0
Ʃ = 0

d = 0
SD = 0

Kadar = x ± SD
= 100,4 % ± 0

·         Penentuan Kadar Natrium Karbonat
% Kadar =

Titrasi 1
% Kadar =  
 = 44,27 %

Titrasi 2
% Kadar =  
              = 47,83 %

Titrasi 3
% Kadar =  
              = 49,1 %

x
d2
44,27 %

2,8
7,84
47,83 %
47,07 %
0,76
0,58
49,1 %

2,03
4,12


Ʃ = 5,59
Ʃ = 12,54

           
SD =  = 2,5
Kadar = x ± SD
= 47,07 % ± 2,5





VI.   PEMBAHASAN
1.    Prinsip Titrasi Asam basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran, berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekivalen ( artinya secara stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekivalen”. Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran (Anonim, 2009).
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekivalen pada titrasi asam basa, yaitu:
1.      Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalen.
2.      Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan (Anonim, 2009).
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indikator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik ekivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indiator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indiator disebut sebagai titik akhir titrasi (Anonim, 2009).
Salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan analisis titrimetri adalah reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri. Asidi dan alkalimetri ini melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar (asidimetri), dan titrasi asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah (asam bebas) dengan suatu basa standar (alkalimetri). Bersenyawanya ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air merupakan akibat reaksi-reaksi tersebut (anonim,2009).

2.    Monografi Bahan
a.    Asam Salisilat
as-salisilat.jpg   Rumus struktur asam           : C7H6O3
Massa molekul                        : 138,1
Jarak cair                                 : 158-161°C
Rumus struktur garam natrium : NaC7H5O3
Massa molekul garam natrium  : 160,1
( Auterhoff, 2002 ).
Asam salisilat pemeriannya berupa hablur putih, biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur halus putih, rasa agak manis tajam dan stabil diudara. Bentuk sintesis tidak berwarna dan tidak berbau. Jika dibuat dari metil salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau merah jambu dan berbau lemah mirip mentol (Anonim, 1995).
Asam salisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 101,0% C7H6O3 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Asam salisilat sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam air mendidih;, agak sukar larut dalam kloroform (Anonim, 1995).

b.   Asam Sitrat
Zitronensäure - Citric acid.svg
Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7 .
Asam sitrat pemeriannya berupa hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai halus, putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau, rasa sangat asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara kering (Anonim, 1995).
Asam Sitrat berbentuk anhidrat atau mengandung satu molekul air hidrat. Mengandung tidak kurang dari 99,5 % dan tidak lebih dari 100,5 % C6H8O7, dihitung terhadap anhidrat. Asam sitrat sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol,  agak sukar larut dalam eter (Anonim, 1995).

c.    Natrium Karbonat
                
Natrium karbonat pemerian hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih (Anonim, 1995).
Natrium karbonat mengandung tidak kurang dari 99,5% NaCO, terhitung dari zat anhidrat  (Anonim, 1995).

d.   Natrium Hidroksida
Natrium hidroksida mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 100,3% alkali jumlah, dihitung sebagai NaOH, mangandung Na2CO3 tidak lebih dari 3%. Pemerian : Putih atau praktis putih, masa melebur, berbentuk pellet, serpihan atau batang atau bentuk lain. Keras, rapuh dan menjukkan pecahan hablur. Bila dibiarkan diudara, akan cepat menyerap karbon dioksida dan lembab. Kelarutan mudah larut dalam air dan dalam etanol (anonim,1995).
Fungsinya dalam percobaan ini yaitu sebagai larutan standar untuk mentritrasi asam cuka (titran). Sifat fisikanya : memiliki rumus molekul (NaOH), densitas dan fase : 2,100 g/cm³ dalam bentuk cairan, memiliki titik lebur 318 °C dan titik didih 1390 °C, berupa cairan higroskopis tidak berwarna (Mulyono, 2006).
Sifat kimia dari NaOH yaitu : sangat mudah menyerap gas CO2, senyawa ini sangat mudah larut dalam air. NaOH merupakan larutan basa kuat, bersifat sangat korosif terhadap jaringan organik, tidak berbau (Mulyono, 2006).

e.    Aquades (Air)
Fungsi Aquades dalam percobaan ini adalah sebagai pelarut kristal NaOH. Sifat fisika dari air : memiliki rumus molekul H2O, massa molar : 18.0153 g/mol, densitas dan fase : 0.998 g/cm³ dalam bentuk cairan dan 0.92 g/cm³ dalam bentuk padatan, memiliki titik lebur 0 °C (273.15 K) (32 ºF) dan titik didih : 100 °C (373.15 K) (212 ºF), berupa cairan tak berwarna dan tidak berbau (Mulyono, 2006).
Air memiliki sifat kimia sebagai pelarut yang baik, memiliki pH 7 (netral). Air bukan merupakan zat pengoksidasi kuat, lebih bersifat reduktor daripada oksidator. Reaksi oksidasi dari air sendiri dapat terjadi jika direaksikan dengan logam alkali atau alkali tanah.
Ca + 2 H2O Ca2+ + 2 OH- + H2 (Mulyono, 2006).

f.     Asam Klorida (Hydrochloric Acid)
HCl.gif
Pemerian : cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air, asap hilang.bobot jenis kurang 1,8
Wadah & penyimpanan : wadah tertutup rapat.
Stabilitas : bersifat korosif.
Fungsi : sebagai campuran dapar.
OTT : dengan basa, alkali karbonat, denga garam perak dan garam merkuri (Anonim,1995)
Larutan asam klorida atau yang biasa kita kenal dengan larutan HCl dalam air, adalah cairan kimia yang sangat korosif dan berbau menyengat. HCl termasuk bahan kimia berbahaya atau B3. Di dalam tubuh HCl diproduksi dalam perut dan secara alami membantu menghancurkan bahan makanan yang masuk ke dalam usus (Mulyono, 2006).
Dalam skala industri, HCl biasanya diproduksi dengan konsentrasi 38%. Ketika dikirim ke industri pengguna, HCl dikirim dengan konsentrasi antara 32~34%. Pembatasan konsentrasi HCl ini karena tekanan uapnya yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan kesulitan ketika penyimpanan. Asam klorida di dalam laboratorium biasa digunakan untuk titrasi penentuan kadar basa dalam sebuah larutan (Mulyono, 2006).

g.    Natrium Bikarbonat (Natrium Subkarbonat)
Natrium subkarbonat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% NaHCO3.
Pemerian serbuk putih atau hablur monoklin kecil, buram ; tidak berbau ; rasa asin.
Kelarutan : larut dalam 11 bagian air ; praktis tidak larut dalam etanol (95%) P (Anonim, 1979).

3.      Larutan Baku
Larutan baku adalah larutan suatu zat terlarut yang telah diketahui konsentrasinya. Terdapat 2 macam larutan baku, yaitu:
1.    Larutan baku primer
Adalah suatu larutan yang telah diketahui secara tepat konsentrasinya melalui metode gravimetri. Nilai konsentrasi dihitung melalui perumusan sederhana, setelah dilakukan penimbangan teliti zat pereaksi tersebut dan dilarutkan dalam volume tertentu. Nilai konsentrasi dihitung melalui perumusan sederhana, setelah dilakukan penimbangan teliti zat pereaksi tersebut dan dilarutkan dalam volume tertentu. Contoh: K2Cr2O7, AS2O3, NaCl, asam oksalat dan asam benzoat.

Syarat-syarat larutan baku primer:
-       Mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin pada suhu 110-120 derajat celcius) dan disimpan dalam keadaan murni.
-       Tidak bersifat higroskopis dan tidak berubah berat dalam penimbangan di udara.
-       Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji kualitatif dan kepekaan tertentu.
-       Sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa ekivalen yang besar, sehingga kesalahan karena penimbangan dapat diabaikan.
-       Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih.
-       Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi tersebut harus bersifat stoikiometrik dan langsung. kesalahan titrasi harus dapat diabaikan atau dapat ditentukan secara tepat dan mudah.
2.    Larutan baku sekunder
Adalah suatu larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembakuan menggunakan larutan baku primer, biasanya melalui metode titrimetri. Contoh: AgNO3, KMnO4 dan Fe(SO4)2.
Syarat-syarat larutan baku sekunder:
-       Derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer.
-       Mempunyai BE yang tinggi untuk memperkecil kesalahan penimbangan.
-       Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan (Ratisah, 2009).
Larutan yang mengandung reagensia dengan bobot yang diketahui dalam suatu volume tertentu dalam suatu larutan disebut larutan standar(larutan baku). Larutan baku ada 2 macam yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Larutan baku primer adalah suatu larutan yang konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat murni yang dilarutkan dan volume yang terjadi, sedangkan larutan baku sekunder adalah suatu larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembakuan menggunakan larutan baku primer (Anonim, 2009).  

4.      Fungsi dan Cara Pembakuan
Pembakuan HCl dilakukan mula-mula dengan mengencerkan sejumlah HCl pekat dengan aquades hingga tiap 1000ml larutan mengandung 8,5ml HCl pekat. Kemudian lebih kurang 200mg natrium karbonat anhidrat yang sebelumnya dikeringkan pada suhu 270-300oC selama setengah jam. Dilarutkan dalam 50ml air. Dititrasi langsung dengan larutan HCl 0,1 N menggunakan indikator fenolftalein (pp) hingga warnanya dari tidak berwarna menjadi warna merah muda. Terjadi reaksi sebagai berikut :
Na2CO3 + 2HCl 2NaCl + CO2 + H2O     (jim Clark, 2007).
Pembakuan HCl dilakukan sebanyak tiga kali, didapatkan normalitas HCl sebesar 0,095 N; 0,099 N; 0,095 N. Maka didapat rata-rata normalitas HCl sebesar 0,096 N. Harga konsentrasi HCl tersebut berbeda dengan harga konsentrasi HCl yang diketahui sebelumnya yaitu 0,1 N.  Pembakuan larutan NaOH dilakukan dengan menambahkan setetes demi setetes larutan NaOH pada larutan oksalat dihidrat (C2H2O4.2H2O). Penambahan tetes NaOH yang pertama menyebabkan sistem berubah menjadi larutan buffer, terjadi reaksi netralisasi sebagai berikut:
C2H2O4.2H2O  + NaOH  C2NaHO4.2H2O+ H2O (Bird, 1993).
Basa kuat terurai sempurna dalam air sedangkan asam lemah terurai sebagian dalam air, sehingga terbentuk garam. Penambahan NaOH dilakukan sampai titik akhir titrasi yaitu titik dimana indikator berubah warna. Indikator yang digunakan adalah fenolftalein. Sehingga titik akhir titrasi didapat saat indikator  berubah warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Perubahan warna tersebut khusus untuk indikator fenolftalein yang berwarna merah muda dalam bentuk basa dan dalam bentuk asamnya tidak berwarnadengan kisaran pH 8,3 sampai 10,10. Dalam suatu larutan indikator membentuk kesetimbangan :
                    H2O + HIn  ↔ H3O+ + In    (Bird, 1993).
Perubahan warna larutan yang dititrasi menandakan larutan titran (basa) yang ditambahkan sudah melebihi titik ekivalen, yaitu titik dimana jumlah ekivalen basa sama dengan jumlah ekivalen asam (asam dan basanya sudah bereaksi dengan tepat). Indikator fenolftalein sangat peka terhadap perpindahan proton dengan menunjukan perubahan warna yang tajam. Indikator ini sukar larut dalam air, tetapi dapat berinteraksi dengan air sehingga cincin laktonnya terbuka dan membentuk asam yang tidak berwarna. Lepasnya proton pertama dari molekul fenolptalein tidak banyak mengubah kerangka molekulnya. Tetapi lepasnya proton kedua menyebabkan perubahan besar pada molekulnya (Rivai, 1995).
Pembakuan NaOH dilakukan sebanyak tiga kali, didapatkan normalitas NaOH sebesar 0,097 N; 0,094 N; 0,099 N. Maka didapat rata-rata normalitas HCl sebesar 0,097 N. Konsentrasi NaOH ini digunakan untuk menentukan kadar asam salisilat. Harga konsentrasi NaOH tersebut berbeda dengan harga konsentrasi NaOH yang diketahui sebelumnya yaitu 0,1 N. Hal tersebut menunjukan bahwa konsentrasi larutan NaOH  dapat berubah disebabkan karena larutan NaOH mudah teroksidasi dalam udara sehingga larutan NaOH perlu distandarisasi.
  
5.      Penetapan Kadar
a.   Asam Salisilat
Penetapan kadar asam salisilat ini dilakukan dengan melarutkan serbuk asam salisilat sebanyak 125 mg dalam etanol 15 mL dan kemudian ditambahkan aquades 10 mL. Tahap selanjutnya, larutan tersebut dititrasi dengan NaOH 0,097 N dan digunakan indikator fenolftalein. Titrasi dilakukan sampai larutan berubah menjadi merah muda. Reaksi yang terjadi adalah:
PENETAPAN ASAM SALISILAT
(Bird, 1993)



b. Asam Sitrat
Asam sitrat yang digunakan dalam percobaan ini sebanyak 125 mg yang ditimbang seksama, kemudian dilarutkan dalam 50 mL aquades pada labu ukur. Selanjutnya larutan tersebut dipipet sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer untuk kemudian dititrasi dengan NaOH 0,097 N menggunakan indikator fenolftalein hingga mencapai titik akhir titrasi, yaitu pada saat larutan berubah warna dari yang semula bening menjadi merah muda. Reaksi yang terjadi yaitu:
PENETAPAN ASAM SITRAT
(Bird, 1993)

c.    Natrium bikarbonat
Natrium bikarbonat yang digunakan dalam percobaan ini sebanyak lebih kurang250 mg sampel yang ditimbang seksama, kemudian dilarutkan dalam 50 mL aquades pada labu ukur. Selanjutnya larutan tersebut dipipet sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer untuk kemudian dititrasi dengan HCl 0,096 N dengan menggunakan indicator metil jingga hingga larutan berwarna jingga. Natrium bikarbonat efektif memberikan manfaat terhadap peningkatan performa olahraga terutama untuk kegiatan intensitas tinggi dengan waktu yang  singkat antara 60 detik hingga 10 menit seperti lari 400 m, 800 m, 1.5 km, sepeda time trial  1 km dan jugar enang 100-400 m.
Natrium bikarbonat adala senyawa kimia dengan rumus NaHCO3. Dalam penyebutannya kerap disingkat menjadi bicnat. Senyawa ini termasuk kelompok garam dan telah digunakan sejak lama. Senyawa ini disebut juga baking soda (soda kue), Sodium bikarbonatnatrium hidrogen karbonat, dan lain-lain. Senyawa ini merupakan kristal yang sering terdapat dalam bentuk serbuk. Natrium bikarbonat larut dalam air. Senyawa ini juga digunakan sebagai obat antasid (penyakit maag atau tukak lambung). Karena bersifat alkaloid (basa), senyawa ini juga digunakan sebagai obat penetral asam bagi penderita asidosis tubulus renalis (ATR). Lalu NaHCO3 mengendap sesuai persamaan berikut :
Na2CO3 + CO2 + H2O → 2 NaHCO3

Praktikum kali ini bertujuan untuk menetapkan kadar suatu obat dalam sampel menggunakan prinsip titrasi larutan asam basa. Salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan analisis titrimetri adalah reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri dan alkalimetri ini melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi basa lemah (asam bebas) dengan suatu basa standar (alkalimetri). (basset, 1994)
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya (Day, dkk, 1981).
Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indikator baik titrat maupun titran biasanya berupa larutan. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7 (netral).
Dalam analisis titrimetri atau analisis volumetri atau analisis kuantitatif dengan mengukur volume, sejumlah zat yang diselidiki direaksikan dengan larutan baku (standar) yang kadar (konsentrasi)-nya telah diketahui secara teliti dan reaksinya berlangsung secara kuantitatif. Larutan baku tiap liternya berisi sejumlah berat ekivalen senyawa baku. Berat atau kadar bahan yang diselidiki dihitung dari volume larutan serta kesetaraan kimianya. Kesetaraan kimia ini dapat diketahui dari persamaan reaksinya. Larutan baku diteteskan dari buret kepada larutan yang diselidiki dalam tempatnya, misalnya labu Erlenmeyer atau gelas piala. Pekerjaan mereaksikan ini disebut titrasi atau menitrasi. Larutan baku yang diteteskan dapat pula disebut titran. Saat yang menyatakan reaksi telah selesai disebut dengan titik ekivalen teoritis (stoikiometris) yang berarti bahwa bahan yang diselidiki telah bereaksi dengan senyawa baku secara kuantitatif sebagaimana dinyatakan dalam persamaan reaksi (Gandjar, 2010).
Titrasi asam basa disebut juga titrasi netralisasi asam basa, dimana jumlah asam yang mengandung 1 mol H+ akan selalu bereaksi secara sempurna dengan jumlah basa yang mengandung 1 mol OH-. Titik dalam titrasi dimana jumlah asam dan basa berada dalam jumlah yang sama dan disebut titik ekivalen. Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu :
1.      Asam kuat – Basa kuat
2.      Asam kuat – Basa lemah
3.      Asam lemah – Basa kuat
4.      Asam kuat – Garam  dari asam lemah
5.      Basa kuat – Garam dari basa lemah
Titrasi yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah titrasi asam kuat dan basa kuat. Indicator yang digunakan metil jingga dan phenolftalein(pp).



Metil jingga

ANd9GcQGYRs463Keqa6MTbj3AG6WjqDMSZzSM4DsgRMIMoSblM7ssG_1ww
Metil Orange (Methyl Orange) MO atau metil jingga adalah senyawa organik dengan rumus C14H14N3NaO3S dan biasanya dipakai sebagai indikator dalam titrasi asam basa.
Metil jingga adalah garam Na dari suatu asam sulphonic di mana di dalam suatu larutan banyak terionisasi, dan dalam lingkungan alkali anionnya memberikan warna kuning, sedangkan dalam suasana asam metil jingga bersifat sebagai basa lemah dan mengambil ion H+, terjadi suatu perubahan struktur dan memberikan warna merah dari ion-ionnya (Anonim, 2009).

moeqm

Pada saat kita menambahkan asam, ion hidrogen tertarik pada salah satu ion nitrogen pada ikatan rangkap nitrogen-nitrogen untuk memberikan struktur yang dapat dituliskan seperti berikut ini :

mostructbase

mostructacid
 


                                                                                   




                                                                                                (Jim clark,2009).
Phenolftalein

100px-Phenolphthalein-low-pH-2D-skeletal

Phenolftalein mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C20H14O4, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian serbuk hablur, putih atau putih kekuningan lemah, tidak berbau dan stabil diudara. Kelarutan praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter (anonym,1995).
Phenolftalein tergolong asam yang sangat lemah dalam keadaan yang tidak terionisasi indicator tersebut tidak berwarna. Jika dalam lingkungan basa, fenolptalein akan terionisasi lebih banyak dan memberikan warna terang karena anionnya (Day, 1981)

phpheqm

Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang. Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri, dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya – mengubah indikator menjadi merah muda.
Setengah tingkat terjadi pada pH 9.3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warna merah muda yang pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan akurat.


Indicator
pKind
pH rentang Ph
Lakmus
6.5
5 – 8
Jingga metil
3.7
3.1 – 4.4
Fenolftalein
9.3
8.3 – 10.0
                                                                                          (Gandjar, 2007).

VII.KESIMPULAN
Hasil praktikum yang diperoleh dapat disimpulkan sebagai berikut :

           
         

Harga yang paling menyimpang = 127,008%
Maka harga ditolak bila :
 ½ > 2,5

2 > 2,5 (tidak memenuhi, bearti harga masih dapat diterima).











VIII.DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Analisis Volumetri atau Titrimetri. http://belajarkimia.com. Diakses tanggal 12 November 2011.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Anonim, 2009. Larutan Baku. http://www.anehnie.com/2009/07/larutan-baku.html. Diakses tanggal 11 November 2011.
Auterhoff dan kovar . 2002. Identifikasi obat. Penerbit ITB . Bandung.
Basset, J, dkk. 1994. Kimia analisis kuantitatif anorganik. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
Bird, T. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Gramedia. Jakarta.
Clark, Jim. 2009. Indikator Asam Basa . www.chem_is_try.org.         Diakses tanggal 12 November 2011. 
Day, RA dan Underwood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta
Gandjar, Ibnu Gholib dan A. Rohman. 2010. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Mulyono. 2006. Kamus Kimia Edisi Pertama. Bumi Aksara. Jakarta.
Ratisah, Sri. 2009. Titrasi Asam Basa. www.kimia.upi.edu. Diakses tanggal 12 November 2011.
Rivai, H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. UI-press, Jakarta.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar